Tampilkan postingan dengan label Bela Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bela Islam. Tampilkan semua postingan

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

UNTUK ketiga kalinya, setelah Aksi 411 dan Aksi 212, umat Islam kembali menggelar Aksi Bela Islam dan Bela Al-Quran bertajuk Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu 11 Februari 2017.

Aksi 112 ini  dihadiri massa yang tidak sebanyak aksi 212, namun tetap menunjukkan ghirah umat Islam tanah air membela agama dan Al-Quran.

Pesan dalam Aksi 112 ini berintikan agar umat Islam mengamalkan atau menegakkan QS. Al-Maidah:51 tentang kewajiban memilih pemimin Muslim agar sang pemimpin seiring-sejalan dengan kaum Muslim dalam menegakkan agama Allah dan mengayomi umat Islam.

Aksi 112 ini, tercemin dalam pesan-pesan poster, spandu, dan orasi sejumlah umala, juga mengingatkan kaum Muslim agar memiliki karakter mukmin sejati yang tunduk-patuh pada ajaran Islam. Disebutkan, kaum Muslim yang tidak menaati ajaran Islam bisa masuk kategori munafik. Na'udzubillah.

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Berikut ini beberapa foto Aksi 112 yang disebarkan via WhatsApp dan Media Sosial.

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar

Aksi 112 Dzikir & Tausiyah Nasional dalam Gambar. Sumber Foto: WA & Media Sosial Facebook. (www.risalahislam.com).*

Tafsir QS Ali Imran:120 Menjelaskan Kondisi Umat Islam Saat Ini

Kaum Kafir dan Munafik Iri Melihat Umat Islam Bersatu. Kondisi saat ini seperti digambarkan dalam Tafsir QS Ali Imran:120.

Kaum kafir dan munafiqin, dengan motor "terduga" kaum komunis yang berusaha bangkit di Indonesia, kian berani dan terang-terangan menyerang dan memfitnah kaum Muslim dengan segala cara, untuk melemahkan kaum Muslim dan memadamkan cahaya Islam di negeri ini.

Didukung kekuatan politik dan ekonomi yang kini berkuasa, mereka terus berusaha melemahkan kaum Muslim dan menodai Islam.

Namun, menurut Allah SWT dalam QS. Ali Imran:120, tipu-daya mereka akan sia-sia selama umat Islam bersabar dan bertakwa --sabar dalam pengertian teguh pendirian, berjuang melawan serangan, dan tak goyah dengan akidah Islam.

TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-120

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali Imran/3:120).

Ayat ini menggambarkan jahatnya hati orang-orang kafir dan hebatnya sifat-dengki (iri) yang bersemi dalam dada mereka.

إن تمسسكم حسنة تسؤهم وإن تصبكم سيئة يفرحوا بها

"Jika kamu memperoleh kebaikan niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya"  (Q.S Ali Imran: 120).

Berkata Qatadah dalam menjelaskan firman Allah ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir:

"Apabila orang-orang kafir itu melihat persatuan yang kokoh di kalangan kaum muslimin dan mereka memperoleh kemenangan atas musuh-musuh Islam, mereka merasa dengki dan marah. Tetapi bila terdapat perpecahan dan perselisihan di kalangan kaum muslimin dan mereka mendapat kelemahan dalam suatu pertempuran, mereka merasa senang dan bahagia. Memang sudah menjadi sunatullah baik pada masa dahulu sampai masa sekarang maupun pada masa yang akan datang sampai hari kiamat, bila timbul di kalangan orang kafir seorang cendekiawan sebagai penantang agama Islam, Allah tetap akan membukakan kebohongannya. melumpuhkan hujahnya dan memperlihatkan cela dan `aibnya".

Karena itu Allah memerintahkan kepada umat Islam dalam menghadapi kelicikan dan niat jahat kaum kafir itu agar selalu bersifat sabar dan takwa serta penuh tawakal kepada Nya. Dengan demikian kelicikan mereka itu tidak akan membahayakan sedikitpun. Allah Maha Mengetahui segala tindak tanduk mereka.

Demikian tafsir QS Ali Imran:120 menurut Tafsir Depag RI. 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan, ayat tersebut menggambarkan kerasnya permusuhan mereka (kaum kafir dan munafik) terhadap kaum mukmin. 

Jika kaum mukmin mendapat kemakmuran, kemenangan, dukungan, dan bertambah banyak bilangannya serta para penolongnya berjaya, maka hal tersebut membuat susah hati orang-orang munafik. 

Tetapi jika kaum Muslim tertimpa paceklik atau dikalahkan oleh musuh-musuhnya, hal ini merupakan hikmah dari Allah SWT. Seperti yang terjadi dalam Perang Uhud, orang-orang munafik merasa gembira akan hal tersebut.

"Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepada kalian" (Ali Imran: 120)"

Allah Swt. memberikan petunjuk kepada kaum mukmin jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu muslihat orang-orang yang zalim, yaitu dengan cara bersabar dan bertakwa serta bertawakal kepada Allah Yang Maha Meliputi musuh-musuh mereka. 

Maka tidak ada daya dan tidak ada upaya bagi kaum mukmin kecuali dengan pertolongan Allah. Karena Allah-Iah semua apa yang dikehendaki-Nya terjadi, sedangkan semua yang tidak dikehendaki-Nya niscaya tidak akan terjadi. 

Tiada sesuatu pun yang lahir dalam alam wujud ini kecuali berdasarkan takdir dan kehendak Allah Swt. Barang siapa bertawakal kepada-Nya, niscaya Dia memberinya kecukupan.

Kemudian Allah Swt. menyebutkan kisah Perang Uhud dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya sebagai ujian buat hamba-hamba-Nya yang mukmin, sekaligus untuk membedakan antara orang-orang yang mukmin dengan orang-orang munafik, dan keterangan mengenai kepahitan yang dialami oleh orang-orang yang bersabar.

Demikianlah ayat Al-Quran selalu menjelaskan fenomena kekinian dan akhir zaman, sebagai pedoman bagi kaum Muslim dalam menjalani kehidupan dalam situasi-kondisi bagaimanapun. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Manifesto Cyber Muslim: Jalan Dakwah dan Jihad di Media Internet

Manifesto Cyber Muslim
Manifesto Cyber Muslim: Jalan Dakwah dan Jihad di Media Internet.

Internet sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Pergaulan di dunia maya bahkan lebih luas dan "heboh" dibandingkan dunia nyata.

Akhir-akhir ini terjadi semacam "ketegangan ideologis" antara dua kubu, kanan dan kiri, di negeri ini. Riak-riak kecil berupa bentrokan fisik antara dua kubu sudah kerap terjadi. Perang kata-kata, perang opini, bahkan perang hoax terjadi di media sosial dalam kondisi "panas".

Guna menyikapi kondisi negeri yang kian panas ini, Majelis Al Kauny Jakarta yang meluncurkan Komunitas Hafizh On The Street menggelar Kajian Bulanan bertema Cyber Muslim, Sabtu (21/1/2017), Pkl. 09.00-12.00 WIB, di Masjia At-Tin TMMI Jakarta.

Kajian bulanan diisi dengan peluncuran buku Cahaya di Langit Jakarta karya Pipiet Senja dan kajian tentang Cyber Muslim oleh praktisi media dari Bandung, Asep Syamsul M. Romli aka Kang Romel.

Dalam kesempatan itu, menurut informasi dari panitia, akan disampaikan Manifesto Cyber Muslim yang digagas Kang Romel yang intinya internet sebagai media dakwah dan jihad yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh umat Islam.

Berikut ini isi draft Manifesto Cyber Muslim sebagaimana didapatkan admin Risalah Islam dari panitia acara.

Manifesto Cyber Muslim


1. Literasi Media

Setiap Muslim wajib menguasai teknologi komunikasi dan informasi internet, melek media online, selektif dan kritis dan menerima informasi di internet, serta memiliki situs web pribadi (blog) dan akun media sosial untuk kepentingan dakwah dan menegakan citra positif Islam dan kaum Muslim.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh-musuh Islam) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.“(QS Al-Anfal:60).

2. Bela Islam

Setiap Muslim wajib membela agama Allah SWT jika kaum anti-Islam terus berusaha menyerang atau memburukkan Islam dan kaum Muslim melalui media internet.

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah: 217).

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai." (QS. Al-Taubah: 32).

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,(QS. 22:39).

"Mengapa kamu tidak memerangi, orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras untuk mengusir Rasul, dan mereka yang pertama kali memulai memerangi kamu. Mengapa kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang-orang beriman." – (QS.9:13)

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman." (Q.S. At-Taubah:13-14)

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana `Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”. (As-Shaff:14)

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)


3. Dakwah Islam

Internet merupakan media dakwah. Dakwah Islam merupakan kewajiban setiap Muslim. Umat Islam wajib saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran:104-105).

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat:33).

4. Prinsip Komunikasi Islam

Dalam berdakwah di internet atau media online, update status, menulis konten website, kaum Muslim berpedoman kepada prinsip komunikasi Islam, yakni
  1. Qaulan Sadida (QS. An-Nisa:9 --perkataan yang benar, faktual, tidak dusta, bukan hoax;
  2. Qaulan Baligha (QS. An-Nisa’: 63) – efektif, lugas, dan berdampak
  3. Qaulan Ma’rufa (QS Al-Baqarah: 235; QS. An- Nisa’: 5& 8; QS. Al-Ahzab: 32) -- pekataan yang baik, santun, tidak menyakiti
  4. Qaulan Karima (QS. Al-Isra’: 23) –perkataan yang mulia.
  5. Qaulan Layina (QS. Thaha: 44) --kata-kata yang lembut atau tidak kasar.
  6. Qaulan Maisura (QS. Al-Isra’: 28) -- perkataan yang mudah dipahami dan menyenangkan.

5. Aksi Cyber Muslim

Setiap Muslim membuat dan mengelola situs pribadi (blog) dan akun media sosial, terutama Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube, untuk dakwah dan bela Islam, minimal melakukan counter opini terhadap isu yang menista atau mencermarkan nama baik Islam dan kaum Muslim.

Dalam mengelola media internet tersebut, setiap Muslim berpedoman kepada prinsip komunikasi Islam --sebagaimana dalam poin keempat manifesto ini, serta dilengkapi pengetahuan dan keterampilan menulisan di media online yang ramah pengguna (user friendly) dan ramah mesin telusur (SEO Friendly), serta strategi media sosial.

Jika mengelola sebuah situs berita (media massa online), Cyber Muslim menaati etika internet (Netiket), Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS), Kode Etik Jurnalistik, UU Pers, dan UU ITE yang selaras dengan Prinsip Komunikasi Islam.

Cyber Muslim harus saling mendukung, saling menautkan media online, like dan share informasi penting, like dan share akun-akun media sosial ulama dan lembaga Islam terpercaya, serta menyebarluaskan materi ceramah, pengajian, khotbah jumat, atau pesan-pesan dakwah Islam di blog dan akun media sosialnya, minimal dengan update status berupa terjemahan ayat Al-Quran dan hadits shahih.

Jakarta, 21 Januari 2017

5 Kewajiban Seorang Muslim terhadap Agamanya (Islam)

5 Kewajiban Seorang Muslim terhadap Agamanya (Islam)
Aksi Bela Islam merupakan bagian dari kewajiban seorang Muslim terhadap agamanya (Islam).

SECARA harfiyah, Muslim adalah orang yang beragama Islam. Ciri utamanya adalah percaya dan yakin Allah SWT sebagai Tuhan yang berhak disembah dan ditaati serta yakin Muhammad Saw adalah utusan-Nya.

Dalam keseharian, ciri seorang Muslim itu adalah menjalankan ibadah shalat, sebagai pembeda utama antara umat Islam dengan kaum non-Muslim, dan mengamalkan ajaran Islam lainnya.

Shalat adalah simbol kepasrahan dan ketaan kepada Allah SWT. Dalam shalat kita berdialog, menyembah, mengagungkan Allah SWT, dan menyatakan siap menaati perintah-Nya.

Dalam salah satu bacaan wajib shalat, yakni QS Al-Fatihah, seorang Muslim menyatakan "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" --hanya kepada-Mu kami mengabdi (menyembah) dan hanya kepada-Mu kami memohon.

Lima Kewajiban seorang Muslim terhadap Agamanya

Kewajiban seorang Muslim terhadap Agamanya (Islam), setela mengimani atau meyakini kebenaran seluruh ajaran Islam, bukan sekadar memahami dan mengamalkan, tapi juga harus menyebarkan, menjaga, serta membela nama baiknya.

Mengacu kepada QS. Al-'Ashr, KH Endang Saifuddin Anshary dalam bukunya, Kuliah Al-Islam (Pustaka Salman, Bandung, 1980), menyebutkan, setidaknya ada lima kewajiban kaum Muslim terhadap agamanya (Islam), yaitu mengimani Islam, mendalami ilmunya, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan membelanya.

  1. Iman -- yakin sepenuh hati bahwa Islam yang terbaik dan paling benar.
  2. Ilmu -- mempelajari dan memahami ajaran Islam secara keseluruhan.
  3. Amal -- mengamalkan ajaran Islam seoptimal mungkin (mastatho'tum)
  4. Dakwah -- menyebarkan kebenaran agama Islam kepada orang lain.
  5. Jihad -- menjaga kehormatan dan membela nama baik Islam dan kaum Muslim. 
Dakwah dan jihad (membela Islam) tidak mesti selalu dengan terjun langsung, seperti para da'i dan mujahid di medan juang, tapi juga dengan membantu persiapan dan dukungan moral & material/dana kepada lembaga-lembaga dakwah dan jihad fi sabilillah.
“Barangsiapa yang membantu orang yang berjuang, maka sesungguhnya dia telah berjuang. Dan barangsiapa yang menanggung keluarganya dengan kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berperang” (HR Bukhari & Muslim).

Berjuang mendakwahkan dan membela Islam bisa dilakukan dengan ragam cara, dengan harta, jiwa, juga lisan.

"Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian" (HR Abu Daud dan Al-Hakim dari Anas).

Penisataan, pelecehan, atau penghinaan terhadap Islam terus dilakukan orang-orang kafir, sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Umat Islam yang benar-benar dengan kemuslimannya, tanpa dikomando akan bangkit membela nama baik agama yang dianutnya (Islam).

Jika ada seorang Muslim  yang tidak bereaksi apa-apa saat ada yang menghina Islam atau melecehkan Al-Quran, maka patut dipertanyakan kemuslimannya.

Aksi Bela Islam, dalam bentuk apa pun yang sejalan dengan nilai-nilai dan adab Islam, merupakan bagian dari kewajiban seorang Muslim terhadap agamanya (Islam). Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*